Salah satu frase paling populer dilingkungan kita berbunyi;"belajar
sepanjang hayat." Jika kita terlalu berfokus kepada pelajaran
formal, tentu frase itu tidak akan relevan. Namun, jika kita meyakini
bahwa proses belajar itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja,
maka kita tidak akan pernah kehilangan momentum untuk bisa belajar
dan meningkatkan diri. Tetapi, apakah proses belajar itu bisa
dilakukan dalam 'situasi apapun'? Kelihatannya memang demikian. Dalam
situasi sulit sekalipun? Betul. Sesulit apapun? Nampaknya begitu.
Saya teringat dengan sepeda pertama yang saya miliki dimasa kecil.
Ketika mendapatkan sepeda itu, saya belum benar-benar bisa bersepeda.
Sehingga ketika sepeda itu tiba dirumah, pada awalnya saya hanya bisa
menatapnya saja. Rasa senang dan takut bercampur aduk. Lalu,
berkembanglah itu menjadi antsusiasme dan kenekatan. Antusias karena
senang, nekat karena sebenarnya belum bisa bersepeda. Walhasil, hal
paling mudah dikenang dari masa-masa awal belajar bersepeda itu
adalah ketika sepeda saya tidak bisa dikendalikan hingga menabrak box
penjual rokok dipinggir jalan. Lecet disikut kiri kanan, ditambah
omelan dari sang pedagang tidak bisa menghentikan kenekatan itu.
Diulangi lagi. Dan ndilalah, lha kok setelah nabrak itu saya menjadi
lancar bersepeda.
Saya yakin, anda memiliki pengalaman serupa itu ketika belajar
bersepeda. Dan sekarang, kita semua sudah sangat mahir melakukannya.
Cobalah anda bayangkan; apa jadinya kita seandainya dulu, kita
langsung berhenti setelah terjatuh? Tentu kita tidak akan pernah
mahir naik sepeda. Mengapa? Karena setelah kejatuhan yang menyakitkan
itu, kita tidak mau mencoba memulainya kembali.
Menurut pendapat anda, apakah hidup juga demikian? Kelihatannya iya,
ya. Dalam hidup pun, kadang kita terjatuh. Kita merasa sakit fisik.
Sakit perasaan. Luka di badan. Dan luka kehormatan. Dan, seperti
bersepeda tadi; seandainya kita berhenti setelah mengalami jatuh dan
luka-luka itu, mungkin kita tidak akan terampil lagi dalam mengarungi
hidup.
Dalam dunia nyata, kita menyaksikan betapa banyak orang yang benar-
benar terhenti oleh kegagalan hidup. Oleh jatuhnya bisnis mereka.
Oleh berakhirnya kontrak kerja mereka. Dan setelah bertahun-tahun
kemudian, mereka terus terkurung oleh perasaan marah dan kecewa.
Lantas menumpahkan kemarahan itu kepada tindakan-tindakan yang kurang
produktif, sehingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan makna
hidup. Padahal, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi diri
yang begitu tinggi.
Dalam dunia nyata, kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang
begitu gigih dan tidak membiarkan dirinya dihentikan oleh cobaan
hidup yang berkali-kali menimpanya. Ketika bisnisnya jatuh, mereka
bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Itulah sebabnya mereka tidak
menyebut bisnisnya 'jatuh', melainkan 'jatuh-bangun'. Artinya, ketika
terjatuh pun, mereka masih berusaha bangun lagi. Ketika perusahaan
tempat mereka bekerja berkata;'we are sorry to tell you that we
cannot keep you stay with us.....' tentu mereka kecewa. Tetapi,
mereka tidak berhenti pada 'kecewa', karena segera setelah itu mereka
meneruskan hidup dengan melakukan apa saja untuk memastikan roda
kehidupannya terus berputar. Sehingga, meskipun mereka telah
kehilangan pekerjaan itu; mereka menemukannya kembali. Bagaimana jika
dengan semua usaha yang dilakukannya, mereka tidak berhasil
menemukannya kembali? Mereka belajar sesuatu dari
ketidakberhasilannya. Lalu mereka membuat pekerjaannya sendiri.
Sehingga selalu ada pekerjaan yang bisa menjaga diri mereka tetap
produktif.
Bagaimana mereka bisa setangguh itu? Sederhana; mereka percaya bahwa
bahwa hidup selalu menyembunyikan pelajaran berharga. Dari perjalanan
hidup mereka menemukan pelajaran untuk melanjutkan hidup. Dan, ketika
secara konsisten mereka melakukan itu, mereka mendapati roda
kehidupan terus berjalan. Dan semakin hari, mereka semakin terampil
menjalaninya.
Demikianlah kehidupan, biarkanlah terus berputar. Lakukanlah yang terbaik meskipun
yang terburuk terjadi. Dengan memperbanyak ikhtiar dan syukur, niscaya
Allah SWT kan melimpahkan segala nikmat dan karunianya. Amin...
Jumat, Juli 17, 2009
Stop Mencari Alasan Atas Kegagalan Yang Kita Peroleh
Jika dicermati lebih jauh dalam keseharian kita entah di pekerjaan, lingkungan, atau dimanapun
kita berada, tentu kita mengenal dengan baik sebuah kata bernama "GAGAL". Di saat kita tidak
mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau tidak mampu melakukan sesuatu, dengan tegas kita
katakan itu adalah sebuah kegagalan. Ribuan bahkan jutaan alasan kita cari dan temukan untuk
pendamping kata kegagalan meski diawal kita hanya menggangap tuk sekedar penghapus kecewa
atas ketidak berhasilan tersebut.
Namun, yang namanya alasan tetaplah alasan yang tiada berubah menjadi keberhasilan. Bahkan
yang lebih parah kita menjadikannya setara dengan pengingkaran diri yang semakin banyak kita
sampaikan semakin banyak pula pengingkaran pada diri kita. Sebenarnya hal ini akan membuat jurang
pemisah kita dengan puncak keberhasilan yang ingin kita gapai. Alasan adalah pengingkaran diri
yang membuat kekuatan kita perlahan terkulai tak berdaya. Belajarlah untuk menerima kegagalan,
berhentilah mencari alasan, dan mulailah bergegas meraih keberhasilan dengan pijakan pelajaran
kegagalan yang kita peroleh.
Kegagalan ibarat jutaan butiran pasir di lumpur yang tersembunyi kilauan emas permata yang
ditimba dengan tiada lelah dan jemu oleh seorang pekerja tambang. Jika kita terus berusaha dan
tekun mencari perbaikan di sela-sela kesulitan dan kerumitan, dan tegas menyingkirkan duri-duri
alasan niscaya kita akan temukan sinar kesempatan. Dengan kata lain, mencari alasan sama dengan
kita membuang pasir dan emas yang terkandung di dalamnya. Simaklah seperti kalimat bijak di
bawah ini :
"Bersahabatlah dengan kegagalan. Teruslah maju dan buatlah kesalahan sebanyak mungkin karena
disitulah kita akan menemukan kesuksesan - di penghujung jalan"
"Kita tidak belajar dari kesuksesan, kita belajar dari kegagalan. Masa sulit dan menderita adalah waktu
untuk belajar"
Cobalah untuk memahami bahwa sebenarnya TIADA KEGAGALAN MELAINKAN MASUKAN atau istilahnya
"There''s no failure, only feedback" dengan begitu mata pikiran lebih terbuka untuk mencari cara-cara
baru, pendekatan-pendekat an baru yang efektif TANPA MENGGANTI TUJUAN YANG TELAH KITA BUAT,
meningkatkan kemampuan untuk mencapai keberhasilan yang kita inginkan, dan yang terpenting adalah
meningkatkan HUBUNGAN BAIK DENGAN ORANG LAIN karena memang kebehasilan yang kita peroleh
tentunya melalui orang lain, bukan!
Have a positive day!
Salam Penuh Syukur
Emma
kita berada, tentu kita mengenal dengan baik sebuah kata bernama "GAGAL". Di saat kita tidak
mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau tidak mampu melakukan sesuatu, dengan tegas kita
katakan itu adalah sebuah kegagalan. Ribuan bahkan jutaan alasan kita cari dan temukan untuk
pendamping kata kegagalan meski diawal kita hanya menggangap tuk sekedar penghapus kecewa
atas ketidak berhasilan tersebut.
Namun, yang namanya alasan tetaplah alasan yang tiada berubah menjadi keberhasilan. Bahkan
yang lebih parah kita menjadikannya setara dengan pengingkaran diri yang semakin banyak kita
sampaikan semakin banyak pula pengingkaran pada diri kita. Sebenarnya hal ini akan membuat jurang
pemisah kita dengan puncak keberhasilan yang ingin kita gapai. Alasan adalah pengingkaran diri
yang membuat kekuatan kita perlahan terkulai tak berdaya. Belajarlah untuk menerima kegagalan,
berhentilah mencari alasan, dan mulailah bergegas meraih keberhasilan dengan pijakan pelajaran
kegagalan yang kita peroleh.
Kegagalan ibarat jutaan butiran pasir di lumpur yang tersembunyi kilauan emas permata yang
ditimba dengan tiada lelah dan jemu oleh seorang pekerja tambang. Jika kita terus berusaha dan
tekun mencari perbaikan di sela-sela kesulitan dan kerumitan, dan tegas menyingkirkan duri-duri
alasan niscaya kita akan temukan sinar kesempatan. Dengan kata lain, mencari alasan sama dengan
kita membuang pasir dan emas yang terkandung di dalamnya. Simaklah seperti kalimat bijak di
bawah ini :
"Bersahabatlah dengan kegagalan. Teruslah maju dan buatlah kesalahan sebanyak mungkin karena
disitulah kita akan menemukan kesuksesan - di penghujung jalan"
"Kita tidak belajar dari kesuksesan, kita belajar dari kegagalan. Masa sulit dan menderita adalah waktu
untuk belajar"
Cobalah untuk memahami bahwa sebenarnya TIADA KEGAGALAN MELAINKAN MASUKAN atau istilahnya
"There''s no failure, only feedback" dengan begitu mata pikiran lebih terbuka untuk mencari cara-cara
baru, pendekatan-pendekat an baru yang efektif TANPA MENGGANTI TUJUAN YANG TELAH KITA BUAT,
meningkatkan kemampuan untuk mencapai keberhasilan yang kita inginkan, dan yang terpenting adalah
meningkatkan HUBUNGAN BAIK DENGAN ORANG LAIN karena memang kebehasilan yang kita peroleh
tentunya melalui orang lain, bukan!
Have a positive day!
Salam Penuh Syukur
Emma
Rumput Tetangga
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di
pekarangan sendiri.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu
inginkan .
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah !
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .
Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit .
Karena Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru .
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat .
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih .
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik…
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan
masa surut…
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan
menjadi berkah bagimu …
pekarangan sendiri.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu
inginkan .
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah !
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .
Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit .
Karena Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru .
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat .
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih .
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik…
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan
masa surut…
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan
menjadi berkah bagimu …
Kamis, Juli 02, 2009
Indahnya Kesulitan
Ada seorang teman mengirimkan email. Bertanya kepada saya, apa makna kesulitan bagi saya? Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa kesulitan adalah jalan menuju kebahagiaan. Jika kita mampu menyelesaikan setiap kesulitan hidup kita maka kita bisa menemukan kebahagiaan, itulah indahnya sebuah kesulitan, begitu jawab saya kepada teman itu.
Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justeru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.
Kita sebagai makhluk yang didesain oleh Allah SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal kita bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati kita bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani kita bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat kita dinamis mencari dan dengan hawa nafsu kita menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.
Kita di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain kita juga menyukai kesulitan. Kita tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justeru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung. Pokoknya banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa? karena kita memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah.
Adapun kebahagiaan biasanya merupakan buah dari ketabahan menghadapi kesulitan panjang yang bersifat alamiah dalam kehidupan. Itulah maka hakikat kebahagiaan hidup berumah tangga biasanya baru diperoleh setelah kakek nenek, yakni ketika menyaksikan anak cucu sebagai generasi penerusnya hidup sukses dan terhormat.
Kesulitan juga harus dibedakan antara analisa dan perasaan, antara kesulitan teknis dan merasa sulit. Ada hambatan yang menurut analisa teknis masuk kategori sangat sulit dan berat, tetapi ada orang yang memandangnya ringan-ringan saja. Kenapa? karena ia merasa tertantang untuk dapat menaklukkan kesulitan dan ia menyadari bahwa kesulitan itu merupakan proses mencapai kebahagiaan. Ia tidak merasa berat dan sulit ketika menghadapi kesulitan karena ia selalu membayangkan buah kebahagiaan yang akan dipetiknya, seperti seorang petani yang belepotan lumpur di sawah, ia tidak merasa risih dengan lumpur karena ia membayangkan panennya nanti. Sedangkan merasa sulit merupakan respon psikologis terhadap problem dan perasaan itu berhubungan dengan tingkat kapasitas kejiwaan yang bersangkutan.
Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justeru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.
Kita sebagai makhluk yang didesain oleh Allah SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal kita bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati kita bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani kita bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat kita dinamis mencari dan dengan hawa nafsu kita menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.
Kita di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain kita juga menyukai kesulitan. Kita tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justeru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung. Pokoknya banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa? karena kita memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah.
Adapun kebahagiaan biasanya merupakan buah dari ketabahan menghadapi kesulitan panjang yang bersifat alamiah dalam kehidupan. Itulah maka hakikat kebahagiaan hidup berumah tangga biasanya baru diperoleh setelah kakek nenek, yakni ketika menyaksikan anak cucu sebagai generasi penerusnya hidup sukses dan terhormat.
Kesulitan juga harus dibedakan antara analisa dan perasaan, antara kesulitan teknis dan merasa sulit. Ada hambatan yang menurut analisa teknis masuk kategori sangat sulit dan berat, tetapi ada orang yang memandangnya ringan-ringan saja. Kenapa? karena ia merasa tertantang untuk dapat menaklukkan kesulitan dan ia menyadari bahwa kesulitan itu merupakan proses mencapai kebahagiaan. Ia tidak merasa berat dan sulit ketika menghadapi kesulitan karena ia selalu membayangkan buah kebahagiaan yang akan dipetiknya, seperti seorang petani yang belepotan lumpur di sawah, ia tidak merasa risih dengan lumpur karena ia membayangkan panennya nanti. Sedangkan merasa sulit merupakan respon psikologis terhadap problem dan perasaan itu berhubungan dengan tingkat kapasitas kejiwaan yang bersangkutan.
Saat Kenyataan di Luar Keinginan
Seringkali kita merasa bahwa hidup ini tidak adil, ketidakadilan ini bermula saat kenyataan yang kita hadapi tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita.
Keinginan lahir dari cita-cita atau bisa juga merupakan rencana hidup kita seperti visi dan misi hidup, dan kenyataan merupakan sesuatu yang kita alami, harus dihadapi, tidak bisa dihindarkan dan diabaikan.
Kenyataan yang pahit , terasa begitu nyata seperti gunung es tatkala kita berada di atas kapal laut yang tak terhindarkan harus menabrak, seberapa piawainyapun sang nakhoda... Dan seseorang merasa hidup ini lebih tidak adil saat ikhtiar dan doa pun sudah dipanjatkan beriringan dengan kepasrahan mendalam.
Kekecewaan bertumpuk-tumpuk, seperti awan kelam yang menggulung tatkala akan hujan deras membawa banjir dan longsor. Sebelum menghadapinyapun kita sudah takut, karena imajinasi kita tentang kekelaman yang kita akan hadapi sudah tertancap dalam pikiran, oh hari esok rasanya berat, oh entah kepahitan apa lagi yang akan menjemput jiwa. Dan benarlah saatnya tiba kita begitu rapuh, lemah, terkulai, kesesakan tatkala bangun pagi menjadi rutinnya kehidupan.
Saat-saat seperti itu yang menguatkan saya adalah perkataan Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 216, bahwa sesuatu yang terasa tidak baik atau kita membencinya, bisa jadi itu adalah hal yang baik untuk kita dan sebaliknya bila kita merasa sesuatu itu baik untuk kita bisa jadi amat buruk untuk kita, karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Untuk beberapa individu memang hal ini terasa klise, tapi memang setelah dijalani inilah kenyataannya. Kita tidak akan pernah mengetahui sesuatu itu baik atau buruk disaat kita belum melalui nya dan merasakan hikmah atau arti sesungguh nya dari yang kita alami.
Saat sekarang ini akan terasa mudah untuk mengatakan bahwa orang lain tidak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan dan mereka hanya bisa memberikan justifikasi terhadap kenyataan pahit hidup yang kita alami, memang lebih mudah untuk menghindari nasihat-nasihat yang terasa menghakimi dibandingkan dengan berkontemplasi atau merenung sejenak apakah memang nasihat itu merupakan solusi untuk masalah kita. Lingkaran setan ini yang terus mengelilingi kita disaat hidup terasa begitu pahit, yaitu kita mendapatkan kenyataan tidak sesuai dengan keinginan/pengharapan lalu dengan mudahnya kita menepis pertolongan orang dan menjauh dari sang Khalik.
Percaya atau tidak, bahwa di hidup ini ada mukjizat, sesuatu yang dikira atau dinalar tidak masuk akal namun terjadi. Terkadang hal ini terjadi di saat kita merasa sudah lelah bergulat dengan hidup, namun kita masih memiliki secercah harapan kepada Allah SWT, disaat kita merasa tidak ada lagi orang yang perduli terhadap kegetiran hidup yang kita alami, namun kita masih bisa bersabar untuk mendapatkan bantuan Allah, La-Haula Walla Quwata Illa Billahil Alliyil Adzim, tiada pertolongan dan daya upaya yang datang selain dari Allah. Kita jangan takut akan suatu masalah tapi kita harus takut jika kita tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dalam mengahadapi masalah.
Saat masalah dirasa telah menggunung, dan terlihat seolah tidak mungkin ada jalan keluarnya. Mulai berbaik sangkalah kepada Allah SWT bahwa semua ini diciptakan berpasang-pasangan. Ujung pelangi memiliki ujung pelangi yang lain, embun pagi terasa indah bila dipasangkan dengan pagi hari begitu juga dengan kesedihan dipasangkan dengan kebahagiaan, ini sudah merupakan janji Allah SWT.
Begitu juga dengan masalah, memang Allah pasangkan dengan doa, karena bila ditilik lebih jauh doa itu erat kaitannya dengan sabar dan sholat. Di dalam kesabarannya dalam menghadapi cobaan dan ujian, seseorang selalu memanjatkan doa nya kepada Allah SWT. Bentuk doa yang paling hakiki ialah sholat, yang di dalamnya terdapat ribuan bentuk zikir atau mengingat Allah SWT.
Disayangkan banyak orang yang menganggap remeh kekutan dari doa, doa itu sangat dahsyat, doa merupakan bentuk kepasrahan dati diri manusia di hadapanNya, doa merupakan komunikasi langsung yang mendekatkan jarak antara hamba dengan PenciptaNya, doa merupakan bentuk pinta dari kita terhadap Yang Maha Dipinta.
Manusia seringkali merasa sibuk atau mungkin disibukkan dengan logika berpikir rasional nya, bahwa doa itu hanya pelengkap dari usaha kita, doa merupakan hal yang tidak masuk di akal bila dilihat dari kemampunannya menyelesaikan masalah.
Bila dihayati doa itu terasa nikmat bila dikemas dengan kepercayaan yang mendalam terhadap kekuatan dari doa, Allah SWT begitu menyukai hambaNya yang berdoa di setiap saat nya, hanya untuk meminta ditunjukkan bus mana yang seharusnya diambil untuk menghindari macet sampai ke doa pilihan pasangan hidupnya. Karena memang selayaknya itulah posisi pentingnya Allah SWT dalam kehidupan kita.
Setelah tangisan terasa sudah mengering, saat terasa keinginan untuk mengakhiri hidup sudah mengkungkung, ingatlah bahwa daun yang jatuh saja itu atas ijin Allah SWT, apalagi insan manusia yang dijadikanNya khalifah di muka bumi ini, pasti telah diatur skenario hidupnya. Wajar memang bila kesedihan mendera kita yang amat sangat, namun apakah kita pernah meminta untuk”dipeluk”oleh Allah SWT dalam rintihan doa-doa kita, dipeluk oleh lindungan dan pertolonganNya untuk menghindari keputusasaan yang sering menghampiri kita?
Terkadang kita merasa “pelukan” yang berarti dan bisa dirasakan hanya datang dari manusia, sedangkan”pelukan”yang terasa memeluk kita dari perbuatan keputusasaan, yang begitu tulus dan tidak minta untuk “dipeluk” kembali hanya pelukan dari Allah SWT, dan yang harus kita lakukan untuk mendapatkan pelukan yang tulus dan begitu menghangatkan jiwa, hanyalah memintanya lewat doa-doa dan tangisan rintihan kita memohon pelukanNya, hanya itu...
Sehingga semoga secercah pemikiran dan pengalaman di atas bisa menumbuhkan perasaan bahwa kepedihan hidup dialami semua orang, bahwa kita tidak sendirian, kenyataan tidak sesuai dengan keinginan adalah hal yang wajar kita alami, kebersamaan dan berbagi rasa semoga bisa menjadi solusi untuk menghadapi kesedihan, bukan berlarut dengannya.
Optimisme harus kita kobarkan dalam jiwa, yang terkadang meredup oleh kerasnya badai, dan pondasi optimisme itu kita tancapkan pada keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita, bantuannya akan selalu datang pada mereka yang meminta.
Keinginan lahir dari cita-cita atau bisa juga merupakan rencana hidup kita seperti visi dan misi hidup, dan kenyataan merupakan sesuatu yang kita alami, harus dihadapi, tidak bisa dihindarkan dan diabaikan.
Kenyataan yang pahit , terasa begitu nyata seperti gunung es tatkala kita berada di atas kapal laut yang tak terhindarkan harus menabrak, seberapa piawainyapun sang nakhoda... Dan seseorang merasa hidup ini lebih tidak adil saat ikhtiar dan doa pun sudah dipanjatkan beriringan dengan kepasrahan mendalam.
Kekecewaan bertumpuk-tumpuk, seperti awan kelam yang menggulung tatkala akan hujan deras membawa banjir dan longsor. Sebelum menghadapinyapun kita sudah takut, karena imajinasi kita tentang kekelaman yang kita akan hadapi sudah tertancap dalam pikiran, oh hari esok rasanya berat, oh entah kepahitan apa lagi yang akan menjemput jiwa. Dan benarlah saatnya tiba kita begitu rapuh, lemah, terkulai, kesesakan tatkala bangun pagi menjadi rutinnya kehidupan.
Saat-saat seperti itu yang menguatkan saya adalah perkataan Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 216, bahwa sesuatu yang terasa tidak baik atau kita membencinya, bisa jadi itu adalah hal yang baik untuk kita dan sebaliknya bila kita merasa sesuatu itu baik untuk kita bisa jadi amat buruk untuk kita, karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Untuk beberapa individu memang hal ini terasa klise, tapi memang setelah dijalani inilah kenyataannya. Kita tidak akan pernah mengetahui sesuatu itu baik atau buruk disaat kita belum melalui nya dan merasakan hikmah atau arti sesungguh nya dari yang kita alami.
Saat sekarang ini akan terasa mudah untuk mengatakan bahwa orang lain tidak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan dan mereka hanya bisa memberikan justifikasi terhadap kenyataan pahit hidup yang kita alami, memang lebih mudah untuk menghindari nasihat-nasihat yang terasa menghakimi dibandingkan dengan berkontemplasi atau merenung sejenak apakah memang nasihat itu merupakan solusi untuk masalah kita. Lingkaran setan ini yang terus mengelilingi kita disaat hidup terasa begitu pahit, yaitu kita mendapatkan kenyataan tidak sesuai dengan keinginan/pengharapan lalu dengan mudahnya kita menepis pertolongan orang dan menjauh dari sang Khalik.
Percaya atau tidak, bahwa di hidup ini ada mukjizat, sesuatu yang dikira atau dinalar tidak masuk akal namun terjadi. Terkadang hal ini terjadi di saat kita merasa sudah lelah bergulat dengan hidup, namun kita masih memiliki secercah harapan kepada Allah SWT, disaat kita merasa tidak ada lagi orang yang perduli terhadap kegetiran hidup yang kita alami, namun kita masih bisa bersabar untuk mendapatkan bantuan Allah, La-Haula Walla Quwata Illa Billahil Alliyil Adzim, tiada pertolongan dan daya upaya yang datang selain dari Allah. Kita jangan takut akan suatu masalah tapi kita harus takut jika kita tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dalam mengahadapi masalah.
Saat masalah dirasa telah menggunung, dan terlihat seolah tidak mungkin ada jalan keluarnya. Mulai berbaik sangkalah kepada Allah SWT bahwa semua ini diciptakan berpasang-pasangan. Ujung pelangi memiliki ujung pelangi yang lain, embun pagi terasa indah bila dipasangkan dengan pagi hari begitu juga dengan kesedihan dipasangkan dengan kebahagiaan, ini sudah merupakan janji Allah SWT.
Begitu juga dengan masalah, memang Allah pasangkan dengan doa, karena bila ditilik lebih jauh doa itu erat kaitannya dengan sabar dan sholat. Di dalam kesabarannya dalam menghadapi cobaan dan ujian, seseorang selalu memanjatkan doa nya kepada Allah SWT. Bentuk doa yang paling hakiki ialah sholat, yang di dalamnya terdapat ribuan bentuk zikir atau mengingat Allah SWT.
Disayangkan banyak orang yang menganggap remeh kekutan dari doa, doa itu sangat dahsyat, doa merupakan bentuk kepasrahan dati diri manusia di hadapanNya, doa merupakan komunikasi langsung yang mendekatkan jarak antara hamba dengan PenciptaNya, doa merupakan bentuk pinta dari kita terhadap Yang Maha Dipinta.
Manusia seringkali merasa sibuk atau mungkin disibukkan dengan logika berpikir rasional nya, bahwa doa itu hanya pelengkap dari usaha kita, doa merupakan hal yang tidak masuk di akal bila dilihat dari kemampunannya menyelesaikan masalah.
Bila dihayati doa itu terasa nikmat bila dikemas dengan kepercayaan yang mendalam terhadap kekuatan dari doa, Allah SWT begitu menyukai hambaNya yang berdoa di setiap saat nya, hanya untuk meminta ditunjukkan bus mana yang seharusnya diambil untuk menghindari macet sampai ke doa pilihan pasangan hidupnya. Karena memang selayaknya itulah posisi pentingnya Allah SWT dalam kehidupan kita.
Setelah tangisan terasa sudah mengering, saat terasa keinginan untuk mengakhiri hidup sudah mengkungkung, ingatlah bahwa daun yang jatuh saja itu atas ijin Allah SWT, apalagi insan manusia yang dijadikanNya khalifah di muka bumi ini, pasti telah diatur skenario hidupnya. Wajar memang bila kesedihan mendera kita yang amat sangat, namun apakah kita pernah meminta untuk”dipeluk”oleh Allah SWT dalam rintihan doa-doa kita, dipeluk oleh lindungan dan pertolonganNya untuk menghindari keputusasaan yang sering menghampiri kita?
Terkadang kita merasa “pelukan” yang berarti dan bisa dirasakan hanya datang dari manusia, sedangkan”pelukan”yang terasa memeluk kita dari perbuatan keputusasaan, yang begitu tulus dan tidak minta untuk “dipeluk” kembali hanya pelukan dari Allah SWT, dan yang harus kita lakukan untuk mendapatkan pelukan yang tulus dan begitu menghangatkan jiwa, hanyalah memintanya lewat doa-doa dan tangisan rintihan kita memohon pelukanNya, hanya itu...
Sehingga semoga secercah pemikiran dan pengalaman di atas bisa menumbuhkan perasaan bahwa kepedihan hidup dialami semua orang, bahwa kita tidak sendirian, kenyataan tidak sesuai dengan keinginan adalah hal yang wajar kita alami, kebersamaan dan berbagi rasa semoga bisa menjadi solusi untuk menghadapi kesedihan, bukan berlarut dengannya.
Optimisme harus kita kobarkan dalam jiwa, yang terkadang meredup oleh kerasnya badai, dan pondasi optimisme itu kita tancapkan pada keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita, bantuannya akan selalu datang pada mereka yang meminta.
Jumat, Juni 12, 2009
Menguatkan Cinta
Dalam kehidupan kita hampir semua yang ada pada diri kita berbahan bangunan penuh cinta. Ketika kita lahir dari sebuh pelukan ayah dan ibu yang dilandasi dengan cinta. Begitu kita minum, ibu menyusui dengan penuh cinta untuk sang buah hati. Banyak ayah yang membungkus makanannya kala teringat buah hatinya. Bahkan alampun menyediakan makanan dan minuman untuk kita dengan penuh cinta.
Perilaku kehidupan seperti siklus Sunatullah atau hukum Alloh pada alam. Disaat Matahari menyinari bumi membawa kehangatan tubuh. Disaat malam tiba langit dibertabur bintang, mengantarkan kita untuk beristirahat ke peraduan. Sama dalam siklus kehidupan kita. Disaat kebahagiaan hadir kita mudah tertawa dan disaat penuh kedukaan kitapun menangis. Semua datang silih berganti.
Maka saya teringat satu hadis Nabi SAW yang s'al-Mukminu lil mukmini kal bun-yaani yasyuddu ba'dhuhu ba'dhaa.' artinya, orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya (HR. Mutafaqun 'Alaih).
Makna pesan hadis ini mengajak kita agar kita menjadi orang yang menguatkan cinta bagi saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka atau penderitaan. Kita bagaikan bangunan satu sama lain. Menguatkan berarti saling mengokohkan bangunan kehidupan kita. Jika kehidupan kita berbahan bangunan cinta, bukankah sudah seharusnya kita juga menguatkan cinta bagi sesama? Sebab cinta anda adalah diri anda yang sesungguhnya.
Perilaku kehidupan seperti siklus Sunatullah atau hukum Alloh pada alam. Disaat Matahari menyinari bumi membawa kehangatan tubuh. Disaat malam tiba langit dibertabur bintang, mengantarkan kita untuk beristirahat ke peraduan. Sama dalam siklus kehidupan kita. Disaat kebahagiaan hadir kita mudah tertawa dan disaat penuh kedukaan kitapun menangis. Semua datang silih berganti.
Maka saya teringat satu hadis Nabi SAW yang s'al-Mukminu lil mukmini kal bun-yaani yasyuddu ba'dhuhu ba'dhaa.' artinya, orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya (HR. Mutafaqun 'Alaih).
Makna pesan hadis ini mengajak kita agar kita menjadi orang yang menguatkan cinta bagi saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka atau penderitaan. Kita bagaikan bangunan satu sama lain. Menguatkan berarti saling mengokohkan bangunan kehidupan kita. Jika kehidupan kita berbahan bangunan cinta, bukankah sudah seharusnya kita juga menguatkan cinta bagi sesama? Sebab cinta anda adalah diri anda yang sesungguhnya.
Kemarin, Hari Ini, dan Esok
Hari ini adalah hari esok yang kucemaskan kemarin
Dan hari ini cerah sekali,
Hingga aku bertanya-tanya mengapa aku mencemaskan hari ini kemarin
Maka hari ini aku tidak akan mencemaskan esok
Lagi pula, mungkin tidak akan ada esok
Maka hari ini aku akan hidup seolah esok tak ada
Dan aku akan melupakan hari kemarin
Hari ini adalah hari esok yang kurencanakan kemarin
Dan hampir semua rencanaku untuk hari ini tidak
berjalan seperti yang kukira kemarin
Maka hari ini aku akan melupakan esok dan aku akan
merencanakan hari ini
Tetapi tidak terlalu habis-habisan
Hari ini aku akan berhenti untuk memetik sekuntum mawar
Aku akan mengatakan kepada orang yang kucintai
betapa aku mencintainya
Aku akan berhenti merencanakan esok dan berencana
untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam hidupku
Hari ini adalah hari esok yang kutakutkan kemarin
Dan hari ini ternyata tidak ada yang harus ditakutkan
Maka hari ini akan kuenyahkan rasa takut akan hal-hal
yang tak kuketahui
Aku akan merangkul yang tidak kuketahui itu sebagai
pengalaman belajar yang penuh dengan kesempatan seru
Hari ini, tidak seperti kemarin, aku tidak akan menakutkan esok
Hari ini adalah hari esok yang kuimpikan kemarin
Dan sebagian mimpi yang kuimpikan kemarin jadi kenyataan hari ini
Maka hari ini aku akan terus memimpikan esok
Dan mungkin lebih banyak lagi mimpi yang kuimpikan
Hari ini akan jadi kenyataan esok
Hari ini adalah hari esok yang tujuannya kutetapkan kemarin
Dan aku mencapai sebagian tujuan itu hari ini
Maka hari ini aku akan menerapkan tujuan yang
sedikit lebih tinggi untuk hari ini dan esok
Dan jika esok ternyata seperti hari ini
Aku pasti akan mencapai semua tujuanku suatu saat nanti!
Source : Buku Satu Tiket ke Surga karya Zabrina A. Bakar
Dan hari ini cerah sekali,
Hingga aku bertanya-tanya mengapa aku mencemaskan hari ini kemarin
Maka hari ini aku tidak akan mencemaskan esok
Lagi pula, mungkin tidak akan ada esok
Maka hari ini aku akan hidup seolah esok tak ada
Dan aku akan melupakan hari kemarin
Hari ini adalah hari esok yang kurencanakan kemarin
Dan hampir semua rencanaku untuk hari ini tidak
berjalan seperti yang kukira kemarin
Maka hari ini aku akan melupakan esok dan aku akan
merencanakan hari ini
Tetapi tidak terlalu habis-habisan
Hari ini aku akan berhenti untuk memetik sekuntum mawar
Aku akan mengatakan kepada orang yang kucintai
betapa aku mencintainya
Aku akan berhenti merencanakan esok dan berencana
untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam hidupku
Hari ini adalah hari esok yang kutakutkan kemarin
Dan hari ini ternyata tidak ada yang harus ditakutkan
Maka hari ini akan kuenyahkan rasa takut akan hal-hal
yang tak kuketahui
Aku akan merangkul yang tidak kuketahui itu sebagai
pengalaman belajar yang penuh dengan kesempatan seru
Hari ini, tidak seperti kemarin, aku tidak akan menakutkan esok
Hari ini adalah hari esok yang kuimpikan kemarin
Dan sebagian mimpi yang kuimpikan kemarin jadi kenyataan hari ini
Maka hari ini aku akan terus memimpikan esok
Dan mungkin lebih banyak lagi mimpi yang kuimpikan
Hari ini akan jadi kenyataan esok
Hari ini adalah hari esok yang tujuannya kutetapkan kemarin
Dan aku mencapai sebagian tujuan itu hari ini
Maka hari ini aku akan menerapkan tujuan yang
sedikit lebih tinggi untuk hari ini dan esok
Dan jika esok ternyata seperti hari ini
Aku pasti akan mencapai semua tujuanku suatu saat nanti!
Source : Buku Satu Tiket ke Surga karya Zabrina A. Bakar
Langganan:
Postingan (Atom)
